Thursday

Meet the Kiwis





Beberapa tahun lalu keluarga abang saya jadi hostfam dua orang guru dari NEW ZEALAND, sekali lagi NEW ZEALAND BOOOOKKK!!! *Iya, iyaaaa norak!*. Selama kuliah di Jogja saya memang tinggal dengan keluarga abang saya dan di tahun 2010 kami kedatangan dua orang guru dari New Zealand, Debra dan Julliana. Debra adalah seorang guru di salah satu sekolah dasar di Wellington sedangkan Juliana seorang guru seni di sebuah sekolah menengah di Whangarei. Sudah sejak lama saya terbosesi dengan Negara para Kiwi itu. Oh ya, Kiwi adalah sebutan untuk New Zelander atau orang New Zealand. Dulu istri abang saya juga pernah tinggal di NZ pas SMA, dan dari ceritanya saya jadi semakin ngilerrr dan terobsesi dengan negara ini. Sebagai pecinta karya J.R.R Tolkien sudah pasti NZ menjadi salah satu daftar bucket list saya. *BANTU AMININ YAK*. Jadilah pas ketemu dua orang kiwi ini saya semakin excited. 


Selama di Jogja mereka berkunjung ke beberapa sekolah dasar untuk berbagi cerita tentang pengalaman mereka jadi Guru di NZ dan mengajar di beberapa kelas. Selama melakukan kegiatan mereka di Jogja, Kak Ully, istri abang saya selalu menemani mereka dan beberapa kali saya juga ikut jalan-jalan bersama mereka dan setiap malam biasanya kami menyempatkan buat ngobrol. Disela-sela kegiatan mereka, kami sempat jalan-jalan berempat, saya, Ka Ully, Debra, dan Julliana. Kami pergi ke Kaliurang buat nikmatin pemandangan gunung merapi, makan jaddah tempe, dan mampir di villa milik keluarga Ka Ully di Kaliurang.

Mereka tinggal selama 2 minggu dirumah kami, dan selama dua minggu itupun saya selalu belajar banyak hal mulai dari gaya hidup para Kiwi, gimana kota-kotanya sampai cerita tentang keindahan alam NZ, bahkan Debra sempat nunjukin beberapa foto ketika di traveling di NZ dan Juliana dengan niatnya bikinin album tentang kehidupan dia di NZ. Dari cerita dan beberapa hari bersama mereka, ada banyak hal yang mengubah pandangan saya tentang gaya hidup orang barat, dan sejak itu juga saya lebih bersemangat buat mewujudkan impian saya ke Middle Earth dan ketemu Legolas, eh?! *AMIIIINNN, DOAIN YAK KAK*

Meet the kiwis, Debra and Juliana
Saya dan Juliana 
Juliana di Gardu Pandang, kaliurang.
Nah kalo ini Debra di Kaliurang.
Sebelum balik ke NZ, Juliana ngasih buku ini ke Ka Ully dan memang SUPERB deh isi bukunya, aaaaahhhh makin ngebet ke Middle Earth!
Ini salah satu yang dibawa Juliana dari NZ, album kegiatan dia sehari-hari disana. She's not just an art teacher, but she an artist. 
Thanks Debra
Juliana juga ngasih saya T-shirt yang dia lukis sendiri :) 

See you in Middle Earth :) :) :) *fingers crossed*

Monday

Trip to the East Part 3 : A beautiful family trip

Setelah dari Maluku Utara mengunjungi Nenek dan jalan-jalan, saya pun kembali ke Ambon. Sesampainya di Ambon saya diberi tahu Mama kalau di kantor tempat Ayah bekerja akan ada acara syukuran pisah sambut bos di kantor Papa, yah kayak welcoming and farewell party yang diadain bersamaan gitulah. Gak perlu diminta sudah pasti saya pun langsung ikut ke tempat ayah saya bertugas, di Maluku Tenggara, tepatnya di kota Tual. Buat yang belum pernah dengar tentang Maluku Tenggara, saya kasi tau nih ya, daerah ini punya banyak banget pantai bagus.

Entah kenapa tapi saya selalu senang kalau bisa berkunjung ke tempat dimana Papa saya bertugas. Jalan-jalan ke tempat tugas Papa saya selalu saya anggap wisata keluarga karena cuman dengan hal seperti itu keluarga saya dapat berpergian bersama ke suatu tempat. Jalan-jalan ke Tual kali ini cuman bisa dilakukan ber-4 Saya, Is (adik saya yang cowok) Papa, dan Mama, karena adik saya yang bungsu, Tia, harus kembali ke Jogja karena harus memulai kuliah, maklum anak semester 1 masih on fire masuk kampusnya.

Perjalanan ke Tual ini kami lakukan dengan menggunakan pesawat wings air. Selama di dalam pesawat saya memutuskan untuk tidak tidur, padahal biasanya saya lebih memilih tidur ketika di pesawat. Pilihan saya untuk tidak tidur karena teman saya pernah bilang kalau pemandangan pulau-pulau yang ada di Maluku Tenggara dari udara itu bagus banget, dan tentu saja saya gak mau kehilangan momen buat nikmatin pemandangan yang katanya bagus banget itu, and this is it.
image
Pemandangan Kepulauan Kei dari udara, can you see the white sand?
Sesampainya di Bandara Dumatubun, Langgur, saya cukup kaget dengan keadaan bandara ini. Kenapa? ada beberapa hal yang buat unik  buat saya di bandara ini, saya mengatakan unik karena hal beberapa hal berikut :

#Pangkalan Udara AU
Sepengetahuan saya sih, bandara ini adalah pangkalan udara AU yang kemudian juga digunakan untuk penerbangan komersil. Luas landasan pacu bandara ini seluas 1.300 x 30 m. Ada 3 maskapai yang melayani rute dengan tujuan kota Tual, yaitu Trigana Air, Wings Air, dan Express Air. Jadi jangan heran kalau di gerbang keluar bandara ini dijaga oleh para abang-abang AU yang gagah.
image
Pesawat yang saya tumpangi ke Tual.
image
Ini apa yah, semacam patung selamat datang kali yaa..


# a very cool baggage claim :) 
Ini merupakan bandara paling kecil yang pernah saya kunjungi, yang unik dari bandara ini adalah baggage claim atau tempat pengambilan bagasi. Tempat pengambilan bagasi di bandara ini terbuat dari kayu dengan bentuk yang hampir mirip dengan yang ada di beberapa bandara namun lebih kecil dan bukan baggage claim dengan conveyor system seperti bandara di kota lainnya di Indonesia yang membuat tas kita akan bergerak mengitari conveyor sehingga kita dapat dengan mudah mengambil tas kita. Di baggage claim Bandara Dumatubun, Langgur, kita harus mengantri untuk mengambil barang bagasi kita, ketika barang tersebut dibawa pihak maskapai dan diletakan di atas baggage claim barulah kita bisa mengambil barang bawaan kita. Ini mungkin ga ada di tempat lainnya, mungkin.
image
Baggage claimnya keren kan, manual :). 
Sepanjang yang saya tahu ada banyak pantai bagus di Kepulauan Kei salah satunya adalah pantai ngurbloat atau yang lebih dikenal dengan pantai pasir panjang. Pantai pasir panjang ini bahkan diklaim oleh lonely planet sebagai salah satu pantai dengan pasir terindah di dunia.

Dua hari di Tual saya hanya bisa mengunjungi satu tempat wisata dan itupun hanya selama sejam disana, alasannya tentu saja Papa saya saat itu sangat sibuk dengan kerjaannya, dan kembali ke alasan saya ikut ke Tual, untuk ikut menghadiri welcoming dan farewell party pimpinan kantor Papa saya. Namun saya cukup senang karena bisa menginjakan kaki di pantai yang konon mempunyai pasir terindah di dunia itu, Pantai Pasir Panjang.
image
Di pantai ini kita bisa bersantai di beberapa hmm, apa yaa semacam pendopo kali ya ini namanya
image
Konon sih, sering dibilang pasir pajang karena area pantai ini yang panjang, jadi ga perlu takut deh desak-desakan untuk bisa menikmati keindahan pantai ini. 
Jalan menuju Pantai Pasir Panjang, bagus!
Segitu aja cerita saya di Tual, saya sangat senang karena akhirnya bisa ke pantai pasir panjang :) 

Trip To The East Part 2 : Enjoying Beautiful North Molluca


Setelah lebaran kemarin, saya berkesempatan mengunjungi Nenek saya yang tinggal di Propinsi Maluku Utara, tepatnya di Kota Ternate. Kedatangan saya ke Ternate kali ini memang telah saya rencanakan dari jauh hari, bahkan dari awal tahun ini. Rencana awal saya untuk sampai ke Ternate adalah dengan menggunakan kapal, namun Papa gak ngijinin saya untuk menggunakan kapal ke Ternate dengan alasan gak aman, saya sendirian di kapal, ombak yang sedang tinggilah, dan blaa blaa blaa, sehingga saya pun mulai mencari alternatif lain yaitu dengan menggunakan pesawat, dan bertapa menyesalnya saya meng-iya-kan permintaan Papa saya untuk berangkat ke Ternate dengan menggunakan pesawat!!Harga tiket pesawat saat itu untuk sekali jalan Ambon-Ternate seharga 1,7 juta rupiah. GLEEEEK!!!Bayangin deh, dengan duit segitu saya sudah bisa kemana-mana dengan kapal, bahkan  harga tiket itu hampir dua kali lipat harga tiket saya sewaktu dari Jogja ke Ambon. Errrrrr.

Dengan hati miris tiap kali liat tiket yang dibelikan Papa, saya pun berangkat ke Ternate dengan menumpang pesawat. Sesampainya disana saya dijemput Om saya, yang kemudian langsung mengantarkan saya ke rumah tante saya, yang juga tempat dimana nenek saya tinggal. Perjalanan ke Ternate kali ini cukup berbeda, biasanya sih saya kesana hanya untuk mengunjungi Nenek saya, namun kali ini saya bisa ngumpul dengan keluarga besar dari Mama saya, karena hampir semua anggota keluarga Mama saya berlebaran bersama Nenek.

Beberapa hari di Ternate saya menyempatkan untuk pergi ke beberapa tempat wisata yang ada di Kota Ternate, maupun daerah-daerah sekitar Kota Ternate. Hari ke 3 di Ternate saya dan sepupu-sepupu saya yang jumlahnya mirip rombongan sirkus melakukan a day tour, yaa keliling Kota Ternate seharian. Jadi, Kota Ternate itu terletak di kaki Gunung Gamalama, pada tahu dong Gunung Gamalama?!.Nah, jadi buat yang mau ke berkunjung ke Ternate hampir semua tempat wisata di Kota ini bisa dikunjungi dalam waktu sehari, kalo di Ternate disebut ron gunung atau keliling gunung. Yaa, emang waktu itu kita bener-bener keliling Gunung Gamalama, pake mobil pastinya, gak mungkin jalan kaki :p. Dan dalam seharian itu saya berhasil mendatangi beberapa tempat wisata di Kota Ternate yaitu :

#1 Batu Hangus.
Batu hangus ini adalah salah tempat wisata yang merupakan bentukan akibat letusan Gunung Gamalama. Terdapat banyak bongkahan batu akibat letusan Gunung Gamalama. Bagi saya tempat ini menarik karena, kita dapat melihat keindahan Gunung Gamalama dan lautan lepas secara bersamaan dari lokasi wisata ini.
image
Gunung Gamalam, dari Batu Hangus. 
image
Laut dan Pulau Maitara dari Batu Hangus

#2 Pantai Sulamadaha
Ini merupakan kali kedua saya datang ke pantai ini, kali pertama saya ke pantai ini kalau gak salah waktu masih SD, udah lama banget ya itu... Menurut saya pantai ini enaknya cuman buat duduk rame-rame lesehan ama keluarga sore-sore, soalnya selain panas banget dan sangat gak rindang, pantai ini juga ga enak buat dijadiin tempat buat renang, ombaknya terlalu kuat dan banyakan batu, jadi kalau renang disini siap-siap aja anda skalian ngerasain scrubing pasir, dan pasirnya pasti bakal keselip di balik baju anda, bahkan di #@%&^%*^.
Kenapa saya bilang enaknya pas sore? Karena mataharinya udah gak begitu terik, dan bisa sekalian nikmatin berbagai jajanan khas Ternate, seperti pisang goreng dan air guraka (minuman khas Ternate yang terbuat dari Jahe, kalo di Jogja mirip Wedang Jahe).
image
Pantai Sulamadaha, Ternate. 


# 3 Pantai Holl
Selama beberapa kali ke Ternate saya baru kali ini saya tahu tentang pantai Holl. Letak pantai Holl ini cukup tersembunyi, sehingga untuk sampai ke pantai ini tidak dapat dilakukan dengan menggunakan mobil, tapi dapat dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari pantai Sulamadaha, jadi jangan heran tidak banyak wisatawan yang tahu tentang pantai yang menurut saya lebih indah jika dibandingkan pantai Sulamadaha.
Sewaktu sampai di Pantai Holl, saya yang cukup kelelahan karena jalan kaki dibawah terik matahari, langsung pengen banget nyebur ke air lautnya, tapi berhubung saya gak bawa baju cadangan, akhirnya cuman bisa foto-foto doang deh. Air di pantai ini sangat jernih, dan tempatnya juga sepi pengunjung, sewaktu saya kesana, tidak ada wisatawan lain selain saya, dan keluarga saya, pokoknya worth visited place lah.

image
Pantai Holl
image
Jernih banget kan airnya, gimana gak pengen nyebur coba?!

#4 Danau Tolire
Pemberhentian saya selanjutnya yaitu Danau Tolire yang terletak di kaki Gunung Gamalama. Sewaktu kesana tante saya sempat bilang kalau ada legenda tentang buaya putih penghuni danau tersebut, karena penasaran saya pun bertanya ke bapak yang ada disekitar danau tersebut. Menurut bapak tersebut, danau Tolire dulunya merupakan sebuah perkampungan yang kemudian berubah menjadi sebuah danau karena sebuah kejadian. Konon ada seorang bapak yang menghamili anaknya sendiri, hal ini membuat warga kampung tersebut menjadi geram dan mengusir bapak serta anak tersebut. Sebuah kejadian aneh terjadi waktu mereka mau meninggalkan kampung tersebut, menurut legenda bapak dan anak tersebut berubah menjadi dua buah danau, yaitu Tolire Lamo (besar) dan Tolire Ici (kecil). Nah, waktu itu saya hanya mengunjungi Tolire Besar. Di Tolire besar terdapat pula legenda buaya putih yang konon dipercaya sebagai jelmaan para warga kampung  yang tetap menjaga danau tersebut sampai sekarang.
image
Danau Tolire, dan Gunung Gamalama. 
Selain itu, hal menarik lainnya yaitu sekuat apapun kita melempar batu ke arah danau, batu tersebut tidak akan pernah menyentuh permukaan danau. Kepercayaan ini membuat banyak anak kecil disekitar danau, yang menjual batu di sekitar danau, karena penasaran saya pun mencoba untuk melempar batu ke arah danau, dannnn…. Ternyata memang batu tersebut di tidak sampai ke permukaan danau, saya pun mencoba sebanyak 6 kali namun hasilnya tetap sama. Entah karena tempat tersebut terlalu tinggi sehingga sulit untuk mencapai permukaan danau atau apapun namun kepercayaan warga sekitar adalah adanya buaya putih yang melindungi danau tersebut sehingga batu yang dilempar tidak akan pernah menyentuh permukaan danau. Penasaran??just try it yourself.

# 5 Pantai Dorpedo
Sewaktu dalam perjalanan pulang menuju rumah, kami melewati satu lagi objek wisata pantai yang ada di Kota Ternate, yaitu pantai Dopredo. Pantai ini cukup teduh karena selain ada pepohonan ada pula tempat bersantai yang dilengkapi payung besar agar terhindar dari sengatan sinar matahari. Pantai Dorpedo juga sangat cocok untuk wisata keluarga karena tempat ini dilengkapi dengan kolam renang, jadi sesampainya disana sepupu saya yang dibawah 7 tahun langsung nyebur ke dalam kolam renang, saya agak kesel sih saya kan juga pengen ikutan nyebuur tapi karena gak bawa pakian cadangan jadinya saya pun hanya jadi penonton.
image
Kolam renang di kompleks pantai dorpedo.
Oh iya, sebelum pulang saya pun sempat ke daerah yang agak tinggi di Kota Ternate supaya bisa melihat dengan jelas pulau maitara yang ada di duit seribu. 

image
Pulau Maitara yang ada di duit seribu rupiah. 

Selain Ternate saya juga sempat pergi ke Tidore yang merupakan salah satu tempat yang sering saya kunjungi apabila ke Maluku Utara. Tidore sendiri merupakan nama sebuah pulau yang ada di Propinsi Maluku Utara, pulau tersebut  dapat dicapai dengan menggunakan feri atau speedboat dari ternate.
Ketika akan menuju Tidore saya bertemu dengan 2 turis Jerman bernama Jacob dan Marklofe. Akhirnya saya pun menawarkan kepada mereka untuk ikut bersama kami ke Tidore berhubung om saya yang memang bertugas di PolAir Ternate memang mempunyai speedboat khusus yang sering digunakan sebagai transportasi beliau selama berdinas. Sepanjang perjalanan yang hanya memakan waktu 20 menit itu saya dan Jacob banyak ngobrol dan dia sedikit kaget ketika saya memperkenalkan nama saya dalam bahasa Jerman, well I learned German when I was in High School. 
image
Dalam speedboat menuju Tidore. 
Setelah sampai di dermaga speedboad Bastiong saya dan Jacob pun janjian untuk ketemu di Pantai Akesahu, Tidore, satu jam kemudian. Setelah itu saya dan keluarga saya menuju ke rumah Om saya yang terletak di Soasiu untuk beristirahat sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Akesahu.

#6 Akesahu
Akesahu merupakan salah satu tempat wisata yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya. Akesahu sendiri merupakan pantai dan pemandian air panas. Pemandian air panas di pantai akesahu ini memang tidak seperti pemandian air panas pada umumnya, biasanya pemandian air panas itu terdiri dari beberapa kolam dan tempatnya luas namun di Akesahu hanya terdapat satu pemandian air panas, dan berukuran kecil. Ketika di Pantai Akesahu sendiri, saya tidak berenang melainkan hanya mengobrol dengan Jacob dan Marklofe, sambil menikmati coke dan crackers. Dan setelah basa basi panjang lebar, saya pun mengetahui kalo ternyata Jacob adalah seorang Geograf, dan kami pun ber-high-five ria, sedangkan Marklofe adalah seorang matematikawan yang bekerja di BMKG, err what a small world, jauh-jauh liburan ketemunya orang geografi, orang jerman pulak. Dan kami pun ngobrol tentang banyak hal, mulai dari tempat-tempat keren di Indonesia, sampe omongan serius seputar perubahan iklim *berat banget deh kayaknya :D. Saya dan Jacob pun bertukar nomor hp, untuk bisa keep in touch selama dia masih di Indonesia, dan kabar terakhir dari Jacob dia bilang kalau sedang traveling di Papua. 
Setelah berada dua hari di Tidore saya pun kembali ke Ternate dengan menggunakan ferry. Ferry yang saya tumpangi berangkat pada sore hari sehingga saya dapat menikmati indahnya pemandangan sore hari Pulau Tidore dan Maitara (yang ada di gambar uang seribu) dari atas ferry menuju ke Ternate.
image
Pulau tidore, dan gunung tidore. 
image
Lagi-lagi Pulau Maitara. 
#Sunrise di Jembatan Residen, Swering. 
Di hari terakhir saya di kota Ternate menyempatkan untuk menikmati pemandangan pagi di jembatan swering. Jembatan swering merupakan tempat jembatan yang digunakan untuk dermaga sementara kapal-kapal yang telah siap untuk mengikuti rangkaian acara Sail Morotai 2012. Saya cukup beruntung karena waktu itu sempat bertemu beberapa orang turis yang akan berpartisipasi dalam rangkaian acara Sail Morotai. 
image
Kapal-kapal dari berbagai negara yang siap untuk berlayar di Sail Morotai 2012. 
image
Jembatan Residen.
#Au Revoir Ternate.
image
KM Lambelu, kendaraan saya untuk kembali ke Ambon. 
Setelah beberapa hari menikmati keindahan Maluku Utara, saya pun kembali ke Ambon dengan menggunakan KM Lambelu. I hope to come again soon, and explore more :)